Mei 5th, 2010
by mohamad handy
Helat sensus penduduk yang dilakukan 10 tahun sekali sudahpun dimulai, terlihat dikaca jendela, dipintu rumah tertempel stiker yang menyatakan bahwa rumah tersebut telah didaftar dalam sensus tahun 2010 ini.
Jelas sensus pada tahun ini bukankah sensus yang pertama yang dilakukan oleh negara ini, namun tanda tanya besar selalu ada dipikiran…sudah benarkan pelaksanaan dilapangan..
Kendala dilapangan memang banyak, tidak dipungkiri begitu petugas sensus datang…pemilik rumah tidak berada ditempat..merasa kesulitan untuk datang kembali membuat petugas sensus menebak dalam pengisian data, siapakah yang harus disalahkan, petugas sensus atau pemilik rumah, dan kejadian ini berlangsung setiap sensus penduduk dilakukan…lalu pertanyaan sudah akuratkah data yang yang dipakai selama ini …?
Satu hal yang selama ini menjadi pertanyaan bagi saya…mengapa BPS tidak bekerjasama saja dengan pemerintah daerah, toh data yang didapat bisa dipergunakan secara bersama-sama. Selama ini data penduduk yang disampaikan oleh BPS selalu saja berbeda dengan data yang dimiliki pemerintah.
Kemampuan dan kemauan sebagian petugas sensus memang masih diragukan, karena mereka tidak dibekali dengan kemampuan yang cukup…..mereka hanya ditunjuk oleh koordinator petugas sensus di tingkat kecamatan..
Pemerintahan terendah ada pada tingkat RT, lalu mengapa RT tidak diberdayakan…? padahal RT lah yang tahu persis keadaan warganya…, dan kalau ini benar-benar dilaksanakan saya yakin data yang didapat jauh lebih akurat daripada sensus yang dilakukan sekarang…
Category Tak Berkategori
|
2 Comments →
Mei 2nd, 2010
by mohamad handy
Masalah UN memang menjadi pembicaraan serius bangsa ini…ukuran keberhasilan yg menurun, anggaran yg semakin besar, kebocoran disana sini…dan berbagai macam permasalahan yang dari ketahun-ketahun terus terjadi…semacam momok berupa kejadian sangat luar biasa yang tidak bisa diselesaikan….mengapa…? Apakah bangsa ini tidak lagi memiliki orang-orang pintar atau penuh dengan orang pintar yang sengaja ingin membodohi bangsa ini…..?
Saya masih bertanya…mengapa UN menjadi ukuran permanen yg menentukan kelulusan siswa…? Sebenarnya kita sangat naif kalau sesuatu yg salah terus saja kita lakukan, seperti keledai yang terus menerus jatuh pada lubang yang sama….
Ketika kita men-generalkan kelulusan dengan standar nilai UN seakan-akan kita menutup mata akan apa yang mestinya menjadi dasar standar yang akan diukur…
Secara logika sesuatu hanya bisa digeneralkan apa bila mempunyai kesamaan kreteria pendukungnya….
Coba bayangkan saja…sekolah di DKI jakarta akan dibandingkan dengan daerah pedalaman daerah pelosok sementara kreteria pendukung saja berbeda….apa sama kualitas guru yang dimiliki, sarana yg dimiliki, buku yang dimiliki, lingkungan, kemampuan ekonomi, adat dan sebagainya…kalau semua berbeda…kenapa kita mesti memaksa…..?
Apakah UN penting….? Jelas sangat penting…karena UN akan menjadi sarana evaluasi mutu pendidikan kita secara nasional….hasil UN akan dijadikan landasan kemajuan pendidikan kedepan…apa saja yang masih kurang, daerah mana saja yang masih lemah yg menjadi prioritas pembenahan…sehingga dana pendidikan kita yang besar tidak salah tempat, tidak membuat jurang perbedaan semakin tinggi antar daeran dan tidak menjadi dana yang membuat sebagian oknum menjadi kaya…
UN diharapkan tidak menjadi momok, menjadi sumber yang membuat anak didik menjadi stres, membuat mereka kalah sebelum berperang….padahal kita tidak tahu persis kondisi mereka pada saat menghadapi UN….apakah hanya dengan UN berhak menyatakan mereka gagal dalam menuntut ilmu selama bertahun-tahun….adil kah itu….
Category pendidikan
|
No Comments →
Juli 2nd, 2009
by mohamad handy
Berbicara masalah pendidikan memang tiada habisnya…. mulai bangunan sekolah, guru, masyarakat miskin pokoknya masih banyak lagi hal-hal yang berkaitan dengan keinginan kita untuk meningkatkan kualitas maupun kuantitas dunia pendidikan kita.
Keseriusan mengangkat dunia pendidikan memang bukan hanya menjadi tugas pemerintah semata namun keberhasilannya juga ditentukan oleh kemauan masyarakat, kemauan bangsa ini…..
Para gubernur pada acara bersama bapak menteri pendidikan begitu semangat menceritakan keberhasilan pendidikan 9 tahun dan sudah mulai pada tingkatan pendidikan 12 tahun, saya jadi berpikir….apa iya sudah mencapai tingkat keberhasilan apa yg sudah disampaikan oleh para gubernur atau hanya bersipat ABS saja karena berbicara bersama menteri.
Pendidikan gratis yang selama ini didengung-dengungkan oleh berbagai pihak terkait, masih terkesan hanya retorika belaka. Betapa ditengah masyarakat kita masih sering terdengar keluhan mahalnya biaya pendidikan. Memang pemerintah sudah coba membantu dengan adanya Program BOS, namun biaya pendidikan tetap saja tinggi. memang biaya perbulan/SPP tidak lagi dibebankan(untuk sekolah negeri) tapi coba bayangkan kewajiban yang harus dipenuhi untuk membeli buku cetak, pakaian sekolah yang jumlahnya minimal 5 pasang dalam bentuk yang berbeda belum lagi kalau sekolah yang punya inovasi yang terlalu tinggi dan selalu saja membuat proposal yang disampaikan pada komite sekolah yang pada akhirnya akan membuat orang tua diwajibkan menyumbang….kalau ini dibiarkan terus maka pendidikan murah belum bisa kita capai selanjutnya pendidikan gratis hanya mimpi disiang bolong.
Makanya berhentilah bermimpi lalu kaji ulang pendidikan murah yang dimulai dari infrastruktur, buku, dan guru
(hal pokok pendidikan), dengan memperhatikan hal cukup serius:
1. Benahi bangunan sekolah sehingga para siswa bisa belajar dgn baik.
2. Buku yang dipakai bersekala nasional sehingga walau dicetak oleh berbagai percetakan namun isinya sama persis sehingga tidak ada lagi keinginan segelintir orang untuk menjadikan pengadaan buku sebagai proyek dan dari tahun ketahun bisa terus dipakai.
3. Perhatikan kesejahteraan guru, namun seleksi guru harus diperketat jadi tidak terkesan hanya menjadi profesi pelarian semata.
sementara hal-hal lain termasuk pakaian yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan meningkatkan dunia pendidikan harus ditunda pelaksanaannya dan berikan sanksi yang tegas bagi sekolah yang secara kaku melaksanakan pengadaan pakaian dan buku, yang menyulitkan para orang tua dan cenderung mengarah pada semacam proyek yang diadakan disekolah.
Category Tak Berkategori
|
1 Comment →
Maret 25th, 2009
by mohamad handy
Semakin dekat perhelatan pemilu, maka semakin jelas pula betapa banyak dari anak bangsa ini yang sudah tidak punya lagi rasa malu, betapa mengemis untuk ditunjuk sebagai sebagai wakil rakyat adalah sebagai harga mati yang harus dicapai. Para caleg sebenarnya tidak takut alias gentar dengan caleg dari partai lain tapi justru lebih takut saingannya yang berasal dari satu partai, benar atau tidak tapi kenyantaan menunjukkan sosialisasi diri jauh lebih diutamakan dari sisialisasi program partai, lalu yang menjadi pertanyaan adalah apa artinya partai ketika perhelatan pemilu tiba…?
Partai diibaratkan seperti kapal dijadikan seperti tameng yang bisa ditumpangi sekaligus jalan untuk mencapai keinginan pribadi, partai merupakan semacam topeng yang bisa dipinjam lalu dilepas setelah keinginan pribadi tercapai, kedepan masa bodoh kan masih banyak topeng-topeng lain yang bisa dipinjam untuk dipakai menjelah pemilu….
Terjadikah perbaikan didalam sistem perpolitikan kita…? menurut saya kita belum kemana-mana alias masih saja berada ditempat. Demokrasi…?kayaknya masih jauh, justru kita lebih dekat pada sistem perpolitikan uang, mengapa karena semakin hari pendidikan politik pada masyarakat selalu digiring kearah sana, siapa memberi lebih banyak maka lebih besar peluangnya untuk terpilih, memang naif…tapi itulah realitas bangsa ini.
yang menjadi pemikiran saya adalah bagaimana caranya menjadikan pemilu yang menjadi arena demokrasi bangsa ini tidak menjadi ajang yang sia-sia, hanya berisikan pesta pora, jor-joran yang akhirnya akan merusak bangsa ini, kedepan saya pikir kejadian seperti ini beri-memberi dari para caleg dan menerima oleh masyarakat harus dimasukkan dalam ketegori gartifikasi dan korupsi, memang terkesan ekstrim tapi untuk bangsa ini hal tersebut harus sudah menjadi pemikiran kita bersama, itupun kalau kita punya keinginan untuk merubah bangsa yang kita cintai ini.
Category politik
|
4 Comments →
Januari 8th, 2009
by mohamad handy
Semakin dekatnya perhelatan pilpres pada tahun 2009 semakin jelas pula pihak-pihak yang secara tersirat menebarkan berbagai alasan ditengah-tengah masyarakat untuk memberikan dukungan pada salah satu cacapres. walau perjalanan masih panjang tapi upaya siapa mendukung siapa sudah mulai terlihat.
persaingan yang semakin panas menyebabkan berbagai pihak untuk melakukan trik-trik sendiri dengan melakukan berbagai terobosan baru untuk meyakinkan masyarakat agar memberikan dukungan pada salah satu calon. Secara logika memang ini patut untuk dilakukan supaya tidak ada kebosanan jika cara yang dipakai yang itu-itu juga. Bukan mendapat dukungan malah mendapatkan ejekan ” sudah basi mas”.
Saya tertarik dengan apa yang dilakukan oleh 4 paranormal di Jawa Timur. Mereka secara cerdik melakukkan upaya secara langsung maupun tidak langsung bisa mendukung atau menguntungkan salah satu calon. Murnikah apa yang mereka kerjakan….? , hanya mereka yang tahu. Terlepas dari itu semua paling tidak para paranormal memberikan inspirasi bahwa ada banyak cara yang bisa dilakukan para calon dengan tidak menghambur-hamburkan uang dengan hanya berkampanye lewat televisi padahal belum tentu ampuh.
Keuntungan lainnya adalah tidak ada sanksi yang dapat dikenakan pada mereka walaupun secara tersembunyi melakukan curi start kampanye. yang jelas aksi kampanye ala paranormal ini akan menyedot dukungan masyarakat khususnya di pulau jawa yang masih kendal dengan keyakinan akan hal-hal ghaib. kita lihat saja nanti apakah masih banyak lagi aksi para calon yang mengikuti cara ini, yang jelas televisi akan sedkit menurun penerimaannya lewat aksi kampanya karena akan beralih pada paranormal, tapi itupun baru ramalan…..
Category politik
|
3 Comments →
Desember 19th, 2008
by mohamad handy
Horee….dana sertifikasi para guru sudah bisa di cairkan…selamat deh bapak ibu guru yang sudah mendapat sertifikasi keahlian…, namun pencairan dana untuk para guru yang sudah mendapat sertifikasi keahlian akan menyisakan cerita yang sulit untuk diterima secara logika maupun secara hati nurani, ini akibat kebijakan yang kurang tepat dalam pelaksanaannya walaupun sudah mencerminkan niat baik untuk meningkatkan kesejahteraan guru dalam rangka peningkatan mutu pendidikan kita.
Kesalahan penerapan sertifikasi memang banyak kejanggalan yang memang harus di evaluasi untuk direvisi:
1. persyaratan kesarjanaan (s1), persyaratan ini sebenarnya belumlah mutlak untuk diterapkan secara kaku, kita melihat para guru-guru kita yang sudah mengajar puluhan tahun tidak bisa ikut sertifikasi gara-gara terganjal dengan gelar kesarjanaan. Pertanyaanya adalah apa benar guru baru yang punya gelar s1 lebih ahli dari guru yg tidak meiliki gelar s1 tapi punya pengalaman puluhan tahun dalam mengajar. bagaimana dengan guru-guru yang berada jauh dipelosok kapan mereka punya peluang untuk mendapatkan gelar kesarjanaan, adilkan…?.
2. Sertifikasi yang dimiliki, persyaratan ini juga kelihatannya nggak masuk akal, karena semua jenis sertifikat apapun bisa diajukan. Coba pikirkan seorang guru matematika yang mengajukan sertifikasi yang didapatnya dari seminar kesehatan anak, apa hubungannya dengan keahlian guru yang bersangkutan…..?
Kedepan maunya ada persyaratan yang lebih masuk akal sehingga gelar keahlian benar-benar sesuai dengan keadaan dilapangan dan bukan hanya semacam persyaratan di atas kertas namun tidak bisa dipertanggungjawabkan. Sertifikasi ini jangan sampai membuat kecemburuan diantara para guru yang dampaknya akan menurunkan tingkat kinerja para guru yang baik namun tidak punya sertifikasi. Karena keahlian tidak terletak hanya pada gelar kesarjanaan atau berapa banyak mereka memiliki sertifikat. Jangan sampai kebijakan ini hanya untuk memenuhi ketentuan dari Undang-undang dan timbul pemikiran dari pada tidak…..lebih baik digunakan kesempatan ini (aji mumpung).
Kalaulah ini kita teruskan maka akan terjadi kesenjangan kesejahteraan antara para guru kota dan pedesaan, karena rata-rata guru yang punya gelar sarjana berada diperkotaan, begitu juga kegiatan semacam seminar maupun kegitan lain lebih banyak diadakan di perkotaan. Sementara ketertinggalan pendidikan lebih banyak berada dipedesaan dibanding diperkotaan.
Category Tak Berkategori
|
8 Comments →
Desember 17th, 2008
by mohamad handy
Kekisruhan para PNS di Pemerintah Daerah belakangan ini sering terjadi. kerasak kerusuk kesana kemari mencari jabatan, padahal kita tahu persis bahwa seorang PNS adalah pejabat karier yang pengangkatan di dalam suatu jabatan mesti memakai pertimbangan dan berbagai persyaratan yang harus dipenuhi, makanya sekarang dilakukan apa yang dinamakan uji kelayakan. Cuma menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah di pakai atau tidak uji kelayakan yang dilakukan.
Permasalahan jabatan karier seorang PNS belakangan memang terasa sudah mengalami pergeseran. Walau sebelumnya yang namanya KKN sudah ada, namun KKN semakin kental sejak Berlakunya UU yang mengatur otonomi daerah pada tahun 1999, paling tidak sudah merambah ke kabupaten/kota yang sebelumnya diatur ditingkat propinsi. Dimana para Kepala Daerah diberikan hak untuk mengangkat dan memberhentikan seorang PNS dalam jabatannya. apa yang terjadi….? pengangkatan tidak lagi berdasarkan kemampuan seseorang, namun lebih banyak memakai pertimbangan siapa dia….punya hubungan apa yang lebih dikenal dengan Perda (pertalian darah) kalau tidak syaratnya akan menjadi sanggupnya berapa…? walau ini sudah menjadi rahasia umum, tapi terus saja berlangsung sampai sekarang, jadi tidak heran ganti pimpinan ganti pula pejabatnya. akhirnya Pejabat yang diangkat hanya punya satu kata kunci yaitu “ABS” (asal bapak senang).
Pergeseran PNS sebagai pejabat karier kini mengalami ancaman semakin berat, yakni ketika berbagai kepentingan sudah ikut campur tangan. ada disana tokoh masyarakat yang selalu mengandalkan Putra Daerah, pengguyuban dengan alasan keterwakilan suku, partai politik dengan alasan dukungan, LSM dengan tekanan-tekanan dan sebagainya. Yang terjadi adalah jabatan karier semakin tidak jelas, karena pertimbangan penunjukkan pejabat karier tidak lagi sesuai ketentuan yang berlaku yang selanjutnya akan menurunkan motivasi kerja yang berdampak pada turunnya kinerja / prestasi PNS.
Category Tak Berkategori
|
2 Comments →
Desember 16th, 2008
by mohamad handy
Perjalanan perpolitikan bangsa ini memang penuh liku, kadang sulit untuk menebak kearah mana tujuan perpolitikan bangsa ini. katanya demokrasi …. tapi kekerasan dalam menyampaikan dan menerima kehendak terus saja terjadi, dikatakan diktator…nggak juga karena semua orang bisa mengekspresikan keinginan dan diberikan kesempatan untuk memilih,makanya sulit untuk memberikan nama yang pas untuk sistem demokrasi apa yang sebenarnya yang kita anut.
Beberapa tahun terakhir ini kita memang dibuat ribet dengan perkembangan politik di tanah air dan antusiasnya sebagian masyarakat untuk ikut serta berpetualang di dalam dunia yang satu ini. Tapi herannya perpolitikan kita kelihatannya seperti berjalan di tempat. Saya cenderung mengatakan kuantitas Yes, kualitas No sehingga perubahan yang diharapkan terjadi hanya berkutat pada peserta pemilu yang hanya bersifat semu, karena partai bertambah tapi orangnya itu-itu juga.
Mayarakat memang harus bersabar jika menambakan perubahan, sepertinya akan memakan waktu yang lama selama sistem tidak berubah dan kebijakan itu-itu juga jangan harap terjadi perubahan . Kita diibaratkan dalam lingkaran besar (kekuasaan) yang isi di dalamnya terdiri dari kotak-kotak ( partai politik ) dan kitalah yang mengisi kotak-kotak itu, jika bosan kita pindah kekotak yang lain atau berusaha membuat kotak yang baru tapi masih dalam lingkaran itu, yang terjadi lingkaran makin penuh dan akan berjadi gesekan diantara kotak, itulah gambaran sederhana yang dapat saya ilustrasikan berkaitan perkembangan polltik di negara kita.
Perubahan berarti berbeda dari yang sudah ada, tugas kita sekarang adalah menjaga jangan sampai lingkaran kekuasaan pecah oleh kotak-kotak yang kita buat sendiri. normatifnya adalah kotaknya harus dikurangi, dan harus secara selektif untuk mengisi kotak-kotak itu dan ini mengharuskan adanya perubahan sistem/aturan yang ada. jika tugas ini sudah bisa kita laksanakan barulah akan terjadi perubahan. Jika tidak, maka jangan harap akan terjadi perubahan.
Category politik
|
5 Comments →
Nopember 19th, 2008
by mohamad handy
Kekuasan memang menjadi bumbu penyedap dari demokrasi di negara ini. berbicara demokrasi seakan tak pernah lepas dari urusan voting, itulah cerminan dari banyaknya kepentingan dari semua pihak sehingga sekarang menjadi suatu yang langka kita mendengar musyawarah dan mufakat, sebagaimana ciri khas rasa toleransi bangsa ini yang katanya berbudaya timur yang penuh rasa tenggang rasa dan selalu mendahulukan kepentingan dalam sekala yang lebih besar.Bergeserkah budaya ketimuran kita….?, sebenarnya ada kesamaan antara demokrasi dan musyawarah mufakat yang sejak dulu kita terapkan, tapi yang paling mengherankan mengapa begitu sulit menerapkan demokrasi di Indonesia, sedangkan kita semua tahu musyawarah dan mupakat jauh lebih tinggi nilai kebersamaannya dibandingkan dengan demokrasi. lupakah kita dengan budaya sendiri…?Seperti pepatah kita “Bulat air karena buluh bulat kata karena mufakat”
kekuasaan memang menjadi momok bangsa ini dan menjadikan demokrasi sebagai alasan kuat untuk menghalalkan semua kalangan untuk dapat berkuasa. Demokrasi memang menjadi barang mahal ketika diterapkan di indonesia, dimulai dari bertambahnya jumlah partai politik, dilakukannya pilpres dan pilkada sampai tingkat kab/kota, dibentuknya KPU sampai tingkat Kab/kota dan aturan-aturan lain yang semuanya telah menghabiskan dana triliunan rupiah, sementara hasilnya belum nyata bisa dinikmati oleh masyarakat.
Mengapa kita harus membayar mahal harga sebuah demokrasi…? sementara demokrasi ibarat barang lama namun disulap menjadi baru. hanya karena demokrasi dipakai oleh negara maju lalu kita menjadi latah utk ikutan-ikutan sementara kita sendiri tidak menyadari bahwa sistem demokrasi kita jauh lebih simpel dan murah yaitu musyawarah dan mupakat. Seakan-akan kita menjadi asing dengan budaya kita sendiri lalu menjadi akrab dengan sebuah budaya yang sama namun berbeda nama dan cara penerapannya.
Kemampuan masyarakat untuk memahami demokrasi memang masih rendah, diperparah lagi dengan elite politik kita yang menjadikan demokrasi hanya sebagai senjata mereka dalam usaha mendapatkan kekuasaan. Demokrasi di indonesia diartikan baru sebatas kebebasan mengeluarkan pendapat oleh kalangan masyarakat sementara dikalangan elite politik baru sebagai menambah jumlah partai. Demokrasi di indonesia ibarat sepeda motor yang selalu berubah model namun tetap memakai mesin dengan standar yang sama.
Category Tak Berkategori, politik
|
9 Comments →
Nopember 18th, 2008
by mohamad handy
Siapa yang tak ingin disebut sebagai pahlawan…?, suatu predikat yang membanggakan dan menjadi cita-cita dari setiap orang. coba lihat betapa bangganya anak-anak kita jika dibelikan baju superman, topengnya batman, ikat kepalanya naruto yang semuanya bercerita tentang kepahlawanan masing-masing. cerita-cerita ini seakan memberikan inspirasi kepada anak-anak kita untuk menjadi seorang pahlawan. Pahlawan bagi keluarganya, pahlawan bagi agamanya dan pahlawan bagi bangsa dan negaranya.
Banyak cerita kepahlawanan memang sering diisi dengan perlawanan yang identik dengan ketidak puasan yang harus dilawan dengan kekuatan fisik. mungkin ini lah yang terjadi di negara ini, begitu banyaknya yang ingin menjadi pahlawan tanpa tahu siapa sebenarnya menjadi musuh yang harus dibinasakan. saya masih ingat begitu gigihnya para mahasiswa untuk berjuang membela kebenaran dan menentang ketidak adilan. peristiwa itu terjadi lebih kurang sepuluh tahun yang lalu, ketika para mahasiswa menganggap orde baru adalah musuh rakyat. yang mengakibatnya gugurnya para mahasiswa dan oleh berbagai pihak telah memberikan predikat pahlawan kepada mereka yang gugur. sebagai penghargaan yang mungkin saja pantas untuk sebuah pengorbanan.
Ibarat cerita bersambung, ternyata kepahlawanan beberapa mahasiswa ini mungkin saja menjadi inspirasi dan menjadikan sebagian mahasiswa menganggap mereka juga pahlawan. sehingga terkadang kelihatan berlebihan dan menganggap semua tindakan yang mereka lakukan sudah mendapatkan restu dari masyarakat. lihat saja begitu banyak kejadian yang melibatkan mahasiswa berakhir dengan kericuhan apalagi beberapa pemberitaan media cetak maupun media elektronik yang begitu gencar membela mahasiswa dan menyalahkan pihak lain.
Mahasiswa sebagai cikal bakal generasi penerus bangsa terkesan larut dan selalu hanyut akan kepahlawananya. Mahasiswa seakan sudah berubah fungsi menjadi penegak keadilan, sehingga lupa bahwa untuk menjadi pahlawan tidak hanya dengan demonstrasi dan kekuatan fisik. Arah perjuangan mahasiswa seakan sudah berbelok, aroma arogansi mahasiswa semakin terlihat. coba saja hitung berapa pagar kantor pemerintah yang rusak, berapa gedung yang hancur berapa kendaraan yang menjadi korban dengan dalih perjuangan membela nasib rakyat, rakyat yang mana….?, sementara diluar tawuran antar mahasiswa terus saja terjadi, dan sekarang sudah mengarah kepada pertentangan dengan sebagian masyarakat, yang sudah bisa ditebak pasti berakhir ricuh.
Tingkat mahasiswa seharusnya bisa mengubah pola pikir, bahwa kekerasan pasti menghasilkan kekerasan. Mau dibawa kemana bangsa ini kalau generasi penerusnya cuma tahu menyelesaikan permasalahan dengan cara kekerasan.Kita merasa prihatin dengan adanya oknum yang menyulap diri menjadi pahlawan bertopeng yang begitu gencar membela dan berupaya sekuat tenaga untuk menjadikan para mahasiswa bagaikan pahlawan penggerak perubahan, namun seiring dengan itu pula menjadikan mahasiswa seumpama kendaraan politik yang bisa mendongkrak popularitas mereka lalu menjadikan isu ketidak adilan, KKN, kemiskinan rakyat dan isu negatif lainnya untuk membuat propaganda ditengah-tengah masyarakat agar memprotes dan menolak berbagai kebijakan pemerintah. Oknum-oknum yang katanya mantan mahasiswa/aktivis inilah yang memetik keuntungan, tidak memiliki modal besar namun bercita-cita bisa eksis ditengah-tengah kancah perpolitikan dan perebutan kekuasaan di negara ini. Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung siapapun, namun lebih pada mengingatkan pada para mahasiswa/aktivis yang benar-benar mempunyai cita-cita mulia dan keiklasan hati yang berjuang tanpa pamrih, supaya tidak menjadi tumbal hanya karena ambisi “KEKUASAAN”sekelompok orang yang tega dan tanpa rasa bersalah membakar semangat mahasiswa untuk menentang berbagai kebijakan pemerintah demi meloloskan semua ambisi mereka, selanjutnya jangan sampai segala tindakan para mahasiswa hanya akan membentuk image buruk bagi para mahasiswa/aktivis itu sendiri.
Sebelum ini menjadi semakin kronis, yang kemudian merusak citra mahasiswa secara keseluruhan yang akan membunuh cikal bakal tunas/bibit penerus bangsa ini, selayaknyalah mahasiswa sejak dini mampu mengubah paradigma tentang kepahlawanan. Mahasiswa akan terus menjadi pahlawan sepanjang mahasiswa memahami betul fungsi seorang mahasiswa. Mahasiswa sebagai kelompok intelektual seharusnya bisa memagari diri dari semua tindakan yang berbau anarkhis dan selalu berupaya menyampaikan pemikiran dengan cara santun yang menggambarkan tindakan elegan seorang inteletual.
Kepahlawanan mahasiswa seharusnya ditunjukkan dengan prestasi belajar. mendalami ilmu dengan temuan-temuan berguna yang bisa mengubah nasib rakyat, bukan malah sebaliknya menghancurkan apa yang kita punya yang juga dibangun dengan keringat rakyat. Paradigma berpikir mahasiswa sebagai kaum terpelajar seharusnya mengharamkan segala bentuk kekerasan. Kaum terpelajar seharusnya bisa memberikan solusi damai dari semua permasalahan yang dihadapi, bentuklah jati diri mahasiswa sebagai pahlawan intelektual, yang patut dan layak untuk mengemban dan mendapatkan tanggungjawab untuk meneruskan cita-cita bangsa ini.
Category Tak Berkategori
|
7 Comments →
selamat menjalan ibadah puasa ! wew..
Selamat mas, Blog nya memang hebring nih
Masalah kenakalan waktu kecil juga saya nakal he..he…
Daftarkan blog anda dalam Lomba blog berhadiah total 10 juta +handphone+speedy gratis. info lihat di www.audiochute.com
wah selamat bro aku malah baru ngeh..
blog-nya emang ok dan
semoga truz sukses
Wah, thanks berat ya mas /hmt atas apresiasinya,
semoga ini bisa menjadi pemicu buat kita semua untuk berkarya lebih baik dan lebih baik….
wah ngasih award berbalik dikasih award lagi :))
mas harmanto jangan pernah lagi ya sampe lupa ingatan.. n keep blogging…
aduuhh mas… biji rambutan setengah jam gak dikeluarin dari mulut kira2 bau nya udah kyk apa ya mas?? wk wk wk…
jangan lupa gabung kesini bro…
http://tech.groups.yahoo.com/group/Communicator-Indonesia
wah kacau tuh dari palasari ke saritem..
berhubung saya dah buat peernya jd udah ga ada peer lg hehe
biji rabutan dieremin di mulut ga tumbuh tuh bro…
kekeke.. btw, selamat buat awardnya.. blognya emang ok sih…
temen2nya keterlaluan tuch, niat mau cari buku ke palasari, malah di kasih tau tempat yg laen ^_^
terima kasih atas awart na
sukses terus mas harmanto
Saya juga dapet dari mas yach ? Double donk…hehhe.. udah dapet dari rio2000, tapi belum sempet kerjain nie….
Insyallah secepatnya.. aye posting….
Prnh tggl di bandung jg y mas, untung ga jd k saritemny, klo jadi… ???
Thx bwt awardny ya
wah.. selamat juga nech… trus berkarya dlm blog mas harmanto…
Pada bagi2 award ya? Selamat dech buat yg udah dpt.
Wew..
Kapan nich..
Makan-makannya..
Hehehehe..
Selamat y bang,sblmnya mhn maaf blm bs nyapa kawan2 blog smua,lg dikampung,hihi..buat bang HARMANTO..seandainya wkt dihotel abang nrima itu wanita tkng pijat,pasti tmn2 bang Harmanto puasnya bkn main ngrjain abang,hahaha…